# Kumpulan artikel
Make your own free website on Tripod.com

KOLEKSI ARTIKEL SENJA'S

============================================================= ==============================================================
AGAMA
KESEHATAN

TEKNOLOGI

TIPS & TRIKS

CERPEN

RAMALAN

LAINNYA
Database sumber :
  • Labtk Mailing list.
  • Ch_Islamica Mailing list.
  • Era Muslim.com
  • Senja Artikel
  • Senja Email

Menu :

SEDIH
oleh : Dodik

Sedih adalah hilangnya kebahagiaan dan dirundung duka, disebabkan kehilangan sesuatu  atau gagal mendapatkan sesuatu. Sedih didalamnya terdapat unsur tidak ingat nikmat dan tertahan pada ikatan watak.

Sedih adalah satu penyakit hati yang akan senantiasa menyelimutinya hingga sang pemilik menjadi terhalang untuk bangkit, berjalan dan giat beraktivitas. Bahkan sedih termasuk dari bencana yang kita dituntut untuk memohon kepada Allah agar  Dia mengusir dan menghapus dari hati kita.

Sedih memiliki pengaruh yang sangat berbahaya bagi jiwa manusia, karena ia akan melemahkan cita-cita dan iradah (kehendak).

Hal itu dikarenakan bahwa iradah adalah bagian dari amal hati, sedang sedih berpengaruh bagi kelemahan hati dan kelumpuhannya hingga tak mampu lagi untuk beraktifitas dan berjalan. Ibnu Qayyim mengatkan:"sedih akan melemahkan hati dan melumpuhkan semangat dan iradah (keinginan)".

Sedih adalah rintangan dan ranjau perjalanan. Sedih tidak termasuk cabang iman. Oleh karena itu, Allah Ta'ala tidak memerintahkan kepadanya dan tidak memuji karenanya dalam satu ayat pun di dalam Al-Qur'an. Malah Allah Ta'ala memberi pahala dan imbalan karenanya bila meninggalkan, serta melarang daripadanya. Sebagai mana firman Allah Ta'ala :

"Janganlah kalian bersikap lemah dan jangan pula bersedih hati, padahal kalianlah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya) , jika kalian orang-orang beriman. "(Ali Imran: 139).

Allah Ta'ala berfirman,

"Pada waktu ia berkata kepada temannya, ‘Janganlah kamu sedih, sesungguhnya Allah beserta kita."(At-Taubah: 40).

Jadi, sedih adalah malapetaka. Kita berdo'a kepada Allah Ta'ala agar dia menolaknya dan mengusirnya dari kita semua. Karena posisi sedih seperti itu, maka para penghuni surga berkata,

"Segala puji bagi Allah yang telah menghilangkan kesedihan dari diri kami."   (Fathir: 34).

Mereka memanjatkan pujian kepada Allah Ta'ala, karena Dia telah menghilangkan musibah sedih dari mereka dan menyelamatkan mereka daripadanya. Dalam hadist shahih, dijelaskan bhwa di antara salah satu do'a yang kerap kali diucapkan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam adalah do'a berikut :

"Ya Allah, aku berlindung diri kepada-Mu dari kegalauan dan kesedihan, kelemahan dan kemalasan, sikap pengecut dan pelit, beban hutang dan paksaan orang lain." (Diriwayatkan Bukhari dan Muslim).

Pada hadist di atas, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Salam berlindung diri dari delapan hal dan masing-masing dari kedelapan hal tersebut dipasangkan dengan pasangan yang serasi dengannya. Galau adalah pasangan sedih di mana kedua-duanya merupakan rasa sakit di dalam hati.

Jika rasa sakit akibat sesuatu yang telah terjadi pada masa mendatang, maka namanya galau. Rasa sakit yang diakibatkan kehilangan sesuatu pada masa silam membuat orang sedih, sedang rasa sakit akibat ketakutan akan masa mendatang, membuat orang galau. Kelemahan adalah pasangan kemalasan.

Masing-masing kata mengandung arti tidak mendapatkan kemaslahatan. Jika disebabkan karena tidak adanya kekuatan untuk mendapatkannya, maka namanya kelemahan dan jika tidak disebabkan karena tidak adanya keinginan, maka namanya kemalasan. Pengecut adalah pasangan pelit.

Sesungguhnyan perbuatan baik itu membahagiakan hati, melapangkan dada, mendatangkan kenikmatan dan mengusir malapetaka. Sedang meninggalkan perbuatan baik dalam arti tidak melakukannya membuat hati dzalim, sempit dan menghalang-halangi datangnya kenikmatan kepadanya.

Pengecut adalah meninggalkan perbuatan baik dengan tuibuhnya, sedang pelit adalah meninggalkan kebaikan dengan harta. Beban hutang adalah pasangan paksaan orang lain. Beban dan paksan yang meninmpa seseorang yang terjadi karena dirinya sendiri atau karena orang lain atau dengan bahasa lain bahwa beban dan paksaan itu terjadi karena kebenaran atau kebatilan dari orang lain.

Pada hadist di atas, Rasulullah shalallahu Alaihi wa Sallam memasukkan unsur sedih ke dalam sekian banyak yang beliau minta dijauhkan daripadanya. Sebab sedih melemahkan hati dan tekat, serta merusak keinginan. Tidak ada sesuatu yang paling disukai syetan kecuali sedih yang dialami orang mukmin. Allah Ta'ala berfirman:

"Sesungguhnya pembicaraan rahasia itu adalah dari syetan, supaya orang-orang beriman bersedih hati." (Al-Mujadilah: 10).

Ibnu Qayyim tidak hanya mengupas sisi negatif dari kesedihan tetapi beliau juga mengupas sisi positifnya. Sedih yang berdampak positif adalah kesedihan orang mukmin. Karena kesedihan orang mukmin itu terjadi disebabkan malas-malasan dalam beribadah kepada Allah, karena sedikit atau karena terjatuh ke jurang kemaksiatan dan menentang perintah-Nya.
Seorang mukmin akan bersedih karena sedikit dalam berkhidmat dan beribadah kepada-Nya, atau karena kedurhakaannya dengan selalu menentang perintah-Nya dan bermaksiat kepada-Nya serta melewatkan waktu dan hari-harinya dengan sia-ssia.

Obat Kesedihan.

Jika sedih adalah salah satu penyakit dan rintangan bagi hati, maka sudah tentu ada obatnya. Dan obat kesedihan menurut Ibnu Qayyim adalah :

Tidak menyerah terhadap kesedihan, sehingga kesedihan tersebut tidak mampu menguasainya apalagi melumpuhkannya dari beramal. Beliau berkata, "Apapun tingkatan kesedihan itu hendaklah seseorang berada di jalan Allah Ta'ala dan orang-orang yang cerdik ialah yang tidak membiarkan kesedihannya menguasai dirinya apal;agi melumpuhkannya."

Mencari jalan keluar dari jerat kesedihannya.

Kembali kepada Allah seraya memohon kepasa-Nya agar dijauhkan dari kesedihan dan gundah gulana, seperti dalam do'a Nabi:"Ya Allah, aku berlindung diri kepada-Mu dari kegalauan dan kesedihan, kelemahan dan kemalasan, sikap pengecut dan pelit, beban hutang dan paksaan orang lain." (Diriwayatkan Bukhari dan Muslim).

Menanamkan Ma'rifatullah dan kasih sayang Allah kepada hamba-hambaNya  ke dalam hati.
Seperti dalam firman Allah :"Janganlah kamu sedih, sesungguhnya Allah beserta kita."(At-Taubah: 40) Ibnu Qayyim membagi jiwa manusia, ketika terjadi sesuatu yang tidak mengenakkan dan menyakitkannya kepada dua bagian.

Beliau berkata, "Ketika terjadi sesuatu yang tidak mengenakkan jiwa, maka jiwa manusia terbagi kepada dua keadaan, jika ia jiwa yang kerdil, maka ia akan sibuk memikirkannya dan bukan memikirkan sebab-sebab yang bisa mengeluarkannya dari kungkungan hal yang membuatnya tidak enak.

Akibatnya ia akan senantiasa dirundung kesedihan. Sebaliknya orang yang berjiwa besar dan mulia,  ia tidak begitu memikirkan hal-hal yang tidak mengenakkannya bagi dirinya. Jika ia mengetahui ada jalan keluar, maka ia menganalisa jalan tersebut dan sebab-sebabnya.

Namun jika ia mengetahui tidak ada jalan keluar di dalamnya, maka ia berfikir untuk beribadah kepada Alllah di dalamnya. Dan yang itu menjadi penawar kesedihan. Apa pun alasannya sedih itu tidak ada manfaatnya bagi dirinya.

Wallahu Alam bishawab.

Maraji' :

Manhaj Tarbiyah Ibnul Qayyim (Dr. Hasan bin Ali Hasan Al Hijazi)
Hijran Paripurna Menuju Allah dan Rasulnya (Ibnul Qayyim Al jauziyah